Selasa, 17 Mei 2011

MOTIVASI SISWA MENGIKUTI TES PTN

 

1.1  PERENCANAAN
i.                    Latar Belakang
Setelah SMA akan melanjutkan ke jenjang apa? Akan memilih universitas dimana? Akan mengikuti Tes Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau tidak? Begitu banyak pertanyaan terlintas saat akan menghadapi kelulusan Ujian Nasional. Beragam planning sudah direncanakan baik dari orangtua maupun murid setelah menjalani pendidikan SMA, salah satunya adalah untuk mengikuti Tes Perguruan Tinggi Negeri. Tentunya dalam menghadapi Tes PTN ini, banyak siswa yang sudah menjalani berbagai jenis bimbingan belajar atau khursus dan lain-lain. Segala upaya dilakukan semaksimal mungkin untuk menghadapi Tes PTN.
Tes PTN pastilah menimbulkan berbagai fenomena di dalamnya, termasuk dalam hal ini beragamnya motivasi siswa dalam mengikuti tes PTN yang akan diselenggarakan di seluruh Indonesia. Motivasi siswa inilah yang sebenarnya menjadi pendorong para siswa dalam mengikuti tes PTN, sehingga dengan itu mereka seakan ‘candu’ untuk terus-menerus berjuang di dalamnya, dalam hal ini disebut sebagai Motivasi Instrinsik. Ketika siswa memang termotivasi di dalam dirinya untuk memberikan yang terbaik -sebesar usaha yang dimilikinya- tentulah proses dalam mengikuti pembelajaran di sekolah, bimbel, maupun ujian-ujian yang terkait akan lancar. Selain motivasi di dalam diri para siswa itu sendiri, tidak dapat dipungkiri bahwa motivasi dari luar (ekstrinsik) seperti keluarga, teman, dan bahkan tempat dimana mereka mendapatkan bimbingan belajar untuk menghadapi Tes PTN juga tidaklah dapat dilupakan, merupakan hal yang juga penting.
Orangtua juga mempunyai peranan penting dalam hal ini, dimana keberadaan para siswa tidak terlepas dari keberadaan orangtuanya. Motivasi yang diberikan orangtua terhadap anak dalam mengikuti Tes PTN ini akan membuat anak semakin membuka pikiran mereka untuk memberikan yang terbaik kepada orangtuanya, dan kebebasan yang diberikan orangtua kepada anak untuk menentukan pilihannya dalam tes juga akan memberikan penilaian tersendiri dari anak bahwa masa depan ada di tangannya dan harus bertanggung jawab terhadap pilihannya itu serta bertanggung jawab pula terhadap kebebasan yang diberikan orangtua kepadanya. Selain itu peranan lingkungan seperti teman-teman ataupun bimbingan belajar juga tidak kalah pentingnya. Ketika teman-teman memberikan masukan-masukan kepada siswa, siswa pastilah mempunyai pertimbangan selain dari masukan-masukan yang diberikan orangtua kepadanya. Kemudian motivasi yang diberikan oleh Bimbingan Belajar juga akan membantu, dimana anak yang sedang berjuang dalam menempuh ‘medan pertempuran’ dalam tes PTN sekiranya diberikan dukungan dalam bentuk apapun sehingga siswa memiliki penilaian tersendiri bahwa bimbel bukan sekedar tempat untuk digalinya ilmu semata tetapi juga dari sana diperoleh semangat, baik melalui pesan-pesan moril atau dukungan lainnya yang akan membuat semangat mereka semakin memuncak dalam menghadapi Tes PTN
Ketika siswa itu sendiri sudah termotivasi dan orangtua, lingkungan  -baik teman-teman, bimbel- sudah memberikan motivasi tersendiri bagi siswa pastilah untuk tahap selanjutnya siswa akan siap untuk menghadapi test PTN tersebut. Pada makalah proyek yang berjudul “Motivasi Siswa Ikut Test Perguruan Tinggi Negeri” akan dijelaskan beberapa proses dimana  observasi dilaksanakan di salah satu Bimbingan Belajar di Medan yakni Ganesha Operation. Dalam observasi ini dipaparkan beberapa pertanyaan dalam bentuk Questioner yakni terdiri dari 24 buah pertanyaan yang sekiranya jawaban akhir para siswa akan mewakili keingintahuan dalam hal motivasi para siswa dan peranan orangtua, teman-teman, bimbel, maupun Universitas dalam meningkatkan motivasi siswa untuk mengikuti Tes PTN.
ii.                  Permasalahan :
·         Apakah motivasi siswa dalam mengikuti Tes PTN yang diselenggarakan di seluruh Indonesia?
·         Apakah peranan bimbingan belajar dalam memotivasi siswa yang akan mengikuti Tes PTN?
·         Apakah peranan orangtua dalam memotivasi siswa yang akan mengikuti Tes PTN?
·         Apakah peran lingkungan dalam memotivasi siswa yang akan mengikuti Tes PTN?
iii.                Tujuan
·         Untuk mengetahui motivasi siswa dalam mengikuti Tes PTN yang diselenggarakan di seluruh Indonesia
·         Untuk mengetahui peranan bimbel dalam memotivasi siswa yang akan mengikuti Tes PTN
·         Untuk mengetahui peranan orangtua dalam memotivasi siswa yang akan mengikuti Tes PTN
·         Untuk mengetahui peranan lingkungan dalam memotivasi siswa yang akan mengikuti Tes PTN

iv.                Manfaat
·         Agar mengetahui motivasi siswa dalam mengikuti Tes PTN yang diselenggarakan di seluruh Indonesia
·         Agar mengetahui peranan bimbel dalam memotivasi siswa yang akan mengikuti Tes PTN
·         Agar mengetahui peranan orangtua dalam memotivasi siswa yang akan mengikuti Tes PTN
·         Agar mengetahui peranan lingkungan dalam memotivasi siswa yang akan mengikuti Tes PTN

v.                  Metode Pengumpulan Data
Dalam melakukan observasi, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode pengisian Questioner
vi.                Landasan Teori
Hal  yang ingin diukur dalam pemberian Questioner ini adalah mengenai Motivasi, sehingga itu landasan Teori yang digunakan adalah mengenai Teori Motivasi
vii.              Alat dan Bahan yang digunakan untuk Merealisasikan Objek
Berikut adalah beberapa alat dan bahan yang digunakan dalam mengadakan observasi: Questioner, Kamera, Laptop, Reward, Pensil atau Pena
viii.            Penjelasan Objek atau Subjek yang Dilibatkan Dalam Proyek
Berikut adalah objek dan subjek penelitian dari Observasi yang telah dilakukan :
y       Objek penelitian   : motivasi
y       Subjek penelitian  : 25 orang siswa kelas XII

ix.                 Time Table
x.                   Proses Analisa dan Membuat Kesimpulan dari Data yang Dikumpulkan
Berikut adalah proses analisis dan proses pembuat kesimpulan yang telah dilakukan :
·         Hasil angket dijumlahkan berapa banyaknya sesuai dengan nomer urut-urut masing-masing
·         Masing-masing dari anggota kelompok memegang 8 buah angket yang sudah dihitung hasilnya, untuk kemudian membuat kesimpulan berdasarkan dengan teori Motivasi baik Motivasi Instrinsik maupun Motivasi Ekstrinsik, semua jawaban disimpulkan berdasarkan motivasi tersebut (sehingga ada 3 buah kesimpulan)
·         Pada diskusi tahap akhir, dikumpulkan kesimpulan yang telah dibuat kemudian dijadikan satu kesimpulan besar


xi.                 Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Proyek:
Tanggal     : 5 Mei 2011
Hari           : Kamis
Pukul         : 15:00 WIB s/d selesai
Tempat      : Ganesha Operation, Jl Hayam Wuruk 7 AB MEDAN

xii.               Kalkulasi Biaya untuk Pelaksanaan Hingga Pelaporan dan Evaluasi Proyek
 
Print :
- Angket                                                                             Rp.   4000
Fotokopi :
- Angket                                                                             Rp. 10.000
Reward :                                                                            Rp. 24.000
Biaya tidak terduga                                                         Rp. 10.000 +
                                                                                                                 Rp. 48.000 
1.2 PELAKSANAAN
 
No
Hari-Tanggal
Pukul
Kegiatan
1
Rabu
(6 April 2011)
11:00
Pembagian tugas berupa pembuatan beberapa pertanyaan masing-masing 8 buah pertanyaan

2

Minggu
(17 April 2011)
17:00
Pengumpulan 8 buah pertanyaan tersebut sehingga menjadi sebuah questioner sebanyak 24 buah pertanyaan
3
Selasa
(3 Mei 2011)
14:00
Peninjauan Lokasi ke Ganesha Operation
Jl Hayam Wuruk 7 AB MEDAN

4
Kamis
(5 Mei 2011)
15:00
Penyebaran questioner dilakukan di area Bimbingan Belajar dengan memilih 25 orang siswa kelas XII dari Bimbingan Belajar Ganesha Operation (durasi pengisian : 40 menit)

5
Kamis
(5 Mei 2011)
16:30
Mengumpulkan hasil dari questioner dan mendiskusikan kembali

6
Jumat
(6 Mei 2011)
14:00
Membuat kesimpulan dari jawaban-jawaban yang tertera dalam questioner
7
Sabtu
(7 Mei 2011)
10:00
Kesimpulan gabungan
8
Sabtu
(14 Mei 2011)
11:00
Finishing Proyek

 1.3 PELAPORAN dan EVALUASI 
PELAPORAN


EVALUASI

NO
KEGIATAN

WAKTU DALAM PERENCANAAN

WAKTU DALAM PELAKSANAAN
       
        KETERANGAN
1.
Menentukan topik
Minggu ketiga-Maret
O 
Sesuai
2.
Diskusikan tema
Minggu keempat-Maret
O
Sesuai
3.
Membuat questioner
Minggu pertama-April
O
Sesuai
4.
Pengumpulan pertanyaan
Minggu kedua-April
  X
Terlambat  1 minggu
5.
Membentuk questioner secara sistematis
Minggu pertama-Mei
O   
Sesuai
6
Meninjau lokasi
Minggu pertama-Mei
O  
Sesuai namun hanya terlambat 1 hari sesuai dengan rencana
7
Pelaksanaan proyek
Minggu pertama-Mei
O  
Sesuai
8.
Pengumpulan data dan hasil
Minggu pertama-Mei
O  
Sesuai
9.
Diskusi hasil akhir
Minggu pertama-Mei
O  
Sesuai
10.
Evaluasi hasil akhir
Minggu pertama-Mei
O  
Sesuai
11.
Finishing proyek
Minggu kedua-Mei
O  
Sesuai
Kisah Kita..

Selasa, 10 Mei 2011

Pengisian waktu luang?

Waktu Luang merupakan waktu yang diinterpretasikan sebagai waktu yang tersisa setelah digunakan untuk kewajiban-kewajiban, mempertahankan hidup atau mempertahankan hidup atau mempertahankan eksistensi, seperti makan, tidur, mandi, dan sebagainya, dengan kata lain bahwa waktu luang adalah waktu yang tidak digunakan untuk "bekerja". 
Bagaimana kita dapat memanfaatkan waktu luang? waktu luang bisa kita manfaatkan sebagai sarana untuk mewujudkan potensi (aktualisasi diri), sebagai sarana meningkatkan mutu pribadi (mengikuti kursus-kursus, latihan-latihan pengembangan diri, mengikuti kegiatan group atau club, dan sebagainya) 
Terkadang sulit membedakan antara pekerjaan dengan kegiatan untuk mengisi waktu luang, karena ada suatu kegiatan yang merupakan kegiatan untuk mengisi waktu luang namun dianggap sebagai pekerjaan bagi orang lain. Intinya Waktu luang didefenisikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan bebas tanpa bayaran dan kegiatan ini memberikan kepuasan kepada pelakunya.

Selasa, 03 Mei 2011

Menciptakan Suasana Belajar yang Positif untuk Meningkatkan Motivasi Belajar

Motivasi seseorang khususnya dalam proses belajar memang tidaklah sama namun motivasi merupakan tenaga dorong untuk:
  1. mencari dan menemukan informasi mengenai hal-hal yang dipelajari
  2. menyerap informasi dan mengolahnya
  3. mengubah informasi yang didapat ini menjadi suatu hasil (pengetahuan, perilaku, keterampilan, sikap, dan kreativitas)
  4. menerapkan hasil ini dalam kehidupan 
Agar motivasi belajar dapat berkembang dengan baik maka para pengajar diharapkan mampu peka terhadap suasana belajar yang positif. 

Menciptakan Suasana Belajar yang Positif 
Mengingat banyaknya pengalaman yang sudah dialami oleh orang dewasa khususnya dalam hal proses pembelajaran, diharapkan para pengajar hendaknya mendorong para peserta didiknya-dalam hal ini orang dewasa-untuk independet, berorientasi pada aplikasi, dan mengenali adanya perbedaan individual. Agar tercipta suasana belajar yang berorientasi manusia dewasa, maka ada empat pedoman memperlakukan mereka:

1. Pengajar perlu menyadari bahwa peserta didiknyalah yang akan menerapkan apa yang mereka terima dari pengajar dalam kehidupan nyata sehingga perlu adanya rasa tanggung jawab oleh pengajar dalam penerapan bahan ajarnya

2. Pengajar juga perlu menyatakan bahwa sukses ataupun tidaknya proses belajar adalah tergantung pada kerja sama antar pengajar dengan peserta didik

3. Apapun kegiatan yang akan dilakukan sekiranya diberikan penjelasan sehingga peserta didik mampu mengetahui tujuan belajar masing-masing peserta serta perlu membantu mereka dalam merencanakan penerapannya

4. Ciptakan suasana kelas layaknya menghadapi seorang yang dewasa, bukan lagi layaknya seperti guru dan murid melainkan seperti klien dengan konsultan dan hindari terbentuknya jarak antara peserta didik dan pengajar

5. Pengajar memiliki rasa empati dimana mampu membaca situasi, memahami perasaan serta kebutuhan peserta

6. Pengajar memberikan penghargaan terhadap peserta atas usaha mereka memberikan sumbangan pemikiran ataupun pengalaman

7. Pengajar mampu menjadi dirinya sendiri, tidak berlagak sok profesional di depan peserta, berpura-pura, dll. Membuka diri dan membagi pengalaman yang sangat besar manfaatnya bagi peserta

8. Pengajar memusatkan perhatian pada kebutuhan dan masalah peserta didik, bukan pada hal-hal yang telah ditentukan sebelumnya

9. Pengajar dapat menggugah argumentasi peserta, tetapi setelah empati dan hormat menghormati telah tercipta

Ketika suasana sedemikian mampu diciptakan, maka ada perasaan dihargai, aman, dimengerti sebagai pribadi yang nyata, tidak kehilangan wibawa serta bertanggung jawab dari peserta. Suasana inilah yang akan meningkatkan motivasi mereka untuk belajar.

sumber:
Sukadji, S. (2000). Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Senin, 25 April 2011

Perbedaan antara Psikolog Pendidikan dengan Psikolog Sekolah

Walaupun sebenarnya antara psikolog pendidikan dengan psikolog sekolah tidak banyak berbeda fungsi dan persiapan pendidikannya, tetapi ada beberapa poin yang membuat Psikolog Pendidikan dengan Psikolog Sekolah, yakni sebagai berikut: 


Psikolog Pendidikan
Psikolog Sekolah
Kebanyakan bekerja di fakultas-fakultas dalam lingkungan universitas atau institute keguruan, atau di lembaga-lembaga  penelitian (Balitbang) dan lembaga pendidikan dan latihan (Diktat)
Ahli-ahli yang menerapkan profesi psikologi di sekolah
Biasanya mengkhususkan pada matakuliah-matakuliah psikologi dasar seperti psikologi perkembangan, psikologi social, dan sebagainya
Biasanya bidang yang mereka kelola adalah psikologi belajar atau pengukuran dan pengembangan prestasi
Biasanya terjun di dunia penelitian dan pengembangan, juga memberikan sumbangan utama mereka berupa penyusunan tes dan pengembangan metode statistic untuk menganalisis hasil tes dan data tes
Membantu sekolah dalam menyelesaikan berbagai masalah kesehatan mental yang dihadapi anak didik
APA (American Psychological Association) membedakan psikolog pendidikan kedalam Division of Educational Psychology
APA membedakan psikolog pendidikan kedalam Division of School Psychology

Selasa, 19 April 2011

BIMBINGAN

I. Apa itu Bimbingan?
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam membuat keputusan yang bijaksana dan dalam penyesuaian diri, serta dalam memecahkan masalah mereka. Tujuan utama dari bimbingan yaitu mengembangkan potensi setiap individu untuk dapat mandiri dalam setiap permasalahan yang dihadapinya dan dapat beradaptasi dengan kehidupannya. Bimbingan tidak sebatas merupakan kegiatan di sekolah melainkan di setiap fase perkembangan manusia juga dibutuhkan adanya bimbingan, misalnya bimbingan di rumah sakit, kantor, rumah tangga, dan di tempat-tempat lain. 

II. Kapan bimbingan diperlukan?
Setiap individu berbeda-beda, apalagi dalam hal bimbingan. Ada orang yang di sepanjang kehidupannya memerlukan bimbingan, ada pula yang memerlukan bimbingan hanya di masa remajanya. Maka dari kita perlu kembali lagi kepada poin dari bimbingan itu sendiri, yaitu : 1)bimbingan merupakan bantuan untuk membuat keputusan yang bijaksana mengenai pilihan, 2) bimbingan membantu individu memahami dan menerima situasi tanpa pilihan atau dengan kata lain bimbingan dapat membantu seseorang agar dapat bekerja sama dengan sesuatu yang tidak dapat dihindari, 3)Bimbingan diperlukan ketika seseorang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki pilihan lain, 4) bimbingan diperlukan ketika seseorang dalam keadaan yang kurang optimal dalam membuat keputusan, atau barangkali sedang dalam keadaan yang dipengaruhi  oleh hal-hal lain yang membuat dirinya kurang bijaksana dalam membuat keputusan. 
Dalam hal ini bukan berarti bimbingan hanya dibutuhkan dalam keadaan yang genting atau krisis, namun juga membantu seseorang yang normal dalam mengatasi masalah perkembangan normal

sumber :
Sukadji, S (2000). Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah. Depok: Lembaga Pengambangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia